Seperti Apa Prosesi Lamaran Adat Toraja?

Sebelum upacara pernikahan dilangsungkan, terdapat prosesi lamaran yang dijalankan sebelumnya oleh calon mempelai pria. Sama seperti daerah lainnya, prosesi lamaran adat Toraja mempunyai syarat dan pelaksanaan yang sudah turun temurun dilaksanakan.

Syarat Lamaran Adat Toraja

Pernikahan secara adat memang sarat makna dan kental dengan unsur budaya. Setiap proses menuju pernikahan juga dilangsungkan secara adat, yaitu rangkaian prosesi lamaran. Sebelum melangsungkan pernikahan adat Toraja, pihak pengantin pria diwajibkan untuk melamar gadis Toraja menurut proses adat yang berlaku di Toraja.

Tak hanya prosesi lamaran saja yang harus sesuai, tetapi juga terdapat syarat-syarat lamaran yang harus dipenuhi. Apa sajakah syarat tersebut? Sebelum datang melamar, pihak laki-laki harus mempersiapkan seluruh persyaratan berupa barang-barang perlengkapan adat dan kebutuhan pokok yang diserahkan kepada gadis yang dilamar dalam bentuk seserahan.

Secara keseluruhan, seserahan tersebut ada 7 macam yang terdiri dari kapur sirih, padi, sayur dan umbi-umbian, uang logam lama, parang serta kostum tradisional Toraja, kue dan masakan Toraja, dan kerbau. Syarat seserahan berupa kerbau ini sangat bermakna sebagai lambang status sosial. Semakin tinggi status sosialnya, maka semakin banyak jumlah kerbau.

Prosesi Lamaran Menurut Adat Toraja

Pernikahan tak hanya menyatukan dua hati, tetapi dua keluarga. Prinsip ini sangat dijunjung tinggi oleh Suku Toraja dan telah menjadi pedoman secara turun temurun. Ajaran ini sangatlah positif untuk mengajarkan bahwa kerukunan akan membawa pada kesejahteraan hidup. Itulah hakikat seluruh prosesi lamaran menurut adat Toraja.

Ketika seorang pria berniat untuk meminang gadis pilihannya sebagai istri, ia harus melewati prosesi lamaran sebagai bentuk permohonan izin atau permintaan kesediaan dari gadis dan keluarganya. Lalu, seperti apakah prosesi lamaran tersebut?

Pria bersama keluarganya datang ke rumah gadis yang akan dilamar dengan membawa seluruh seserahan sebagai syarat lamaran. Seluruh barang tersebut diletakkan dalam tempat khusus yang sudah dihias agar terlihat rapi dan indah. Pada awalnya, keluarga pihak laki-laki dan wanita berdialog terlebih dahulu dengan bahasa Toraja, tanpa kedua calon mempelai.

Setelah berdialog menyampaikan maksud kedatangannya, keluarga pihak laki-laki menyerahkan kapur sirih kepada orang tua dari gadis. Apabila diterima, orang tua dari gadis akan memakannya.

Jika lamaran diterima, maka calon mempelai pria dan rombongan diharapkan masuk membawa seluruh seserahan tersebut sebagai bukti keseriusan untuk meminang gadis pilihannya tersebut. Setelah seserahan diberikan kepada pihak wanita, maka semua rombongan diharapkan untuk duduk untuk beristirahat.

Setelah itu, calon mempelai wanita akan keluar dengan badan yang tertutup kain. Calon mempelai laki-laki harus menebak mana calon mempelai wanitanya. Calon mempelai wanita akan menunjukkan tangannya dengan cara mengangkat tangan dari balik kain sebagai tanda.

Proses lamaran secara adat juga sama dengan upacara pernikahan yang lebih kompleks dibandingkan secara modern tanpa adat. Meskipun demikian, pelaksanaan prosesi lamaran secara adat lebih berharga karena punya makna di setiap prosesinya. Hal tersebut juga ditemukan dalam prosesi lamaran adat Toraja dengan rangkaian prosesnya yang bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.